Senin, 10 Januari 2011

Kekayaan Budaya Indonesia

Tak akan ada habis-habisna jika kita membahas kekayaan Indonesia. Semua oarng Indonesia pun tahu bahwa bertapa banyaknya kebudayaan Indonesia. Dari mulai bahasa, kuliner, nyanyian, tarian, alat music, pakaian, rumah adat, dan berbagai jenis kesenian lainnya. Begitu banyaknya sehinnga sebagian besar orang Indonesia "kurang banyak mengetahui" tentang berbagai kebudayaan Indonesia {bahkan termask saya sendiri}. Dan berkat kekayaan budayalah industri pariwisata Indonesia menjadi bekembang sehingga menggerakan roda perekonomian. tiap Tahunnya jutaan turis asing yang berkunjung ke Indonesia.

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki: bahasa daerah, tarian dan pulau terbanyak di dunia. Nemuan segudang pestasi yang bangsa ini miliki juga menimbulkan segudang fenomena-fenomena ironis yang sampai saat ini permasalahannya belum terselesaikan. Dan tentu saja semua pasti tahu tentang berbagai ironi yang terjadi pada bangsa kita. Nah .. disini akan saya bahas berbagai ironi trsebut.

1. Klaim Tetangga Sebelah Atas Aset Budaya Indonesia



Reog Ponorogo , Angklung, dan Keroncong adalah contoh dari sekian aset budaya kita yang pernah diklaim negara lain. Bahkan lebih ironisnya lagi yang mengklaim sebagian besar adalah bangsa serumpun yang dulu pernah dibantubangsa kita untk bangkit dari keterpurukan. Mereka memang salah, tetapi kita, bangsa ini dan khususnya pemerintahlah yang memikul tanggungjawabnya. Puluhan tahun negara ini merdeka, baru tahun 2009 kita berhasil mematenkan batik dari ribuan aset lainnya yang belum dipatenkan.

2. Kurangnya Apresiasi Terhadap Seni dan Budaya Indonesia oleh rakyanya sendiri

Musik pop, band, tato, kartun jepang, modern dance dan masih banyak lai kesenian impor yang sangat digandrungi anak muda zaman sekarang terlebih lagi di perkotaan. Bukannya suatu kesalahan atau larangan jika seseorang ingin memilih suatu karya seni dari mana saja, karna stiap orang memiliki selera yang berbeda bigitu juga cara mengapresiasinya. Namun yang amat sangat disayangkan bahwa generasi sekarang memiliki apresiasi yang minim terhadap kebudayaan bangsa ni. Jika akhir-akhir ini sringkali kita mendengar kampanya untuk melestarikan berbagai kebudayaan Indonesia kepada remaja sebagai generasi penerus. tidak terlalu burukmemang, tapi masih perlu memperbaiki kekurangannya. Masa remaja adalah masa dimana seseorang sedang mencari jati dirinya. Emosi yang masih labil, pengaruh lingkungan akan membuat seorang remaja hanya ingin mengikuti ketertarikannya. Sulit untu mengajak remaja kita untuk mengenal bahkan mengapresiasi kebudayaan Indonesia karna mereka sudah mimiliki "seleranya" masing-masing.

Di beberapa negara pengenalan kebudayaan tradisional labih difokuskan kepada anak-anak usia di bawah 10 tahun. Karna anak dengan usia itu terbilang masih polos sehingga lebih mudah untuk diarahkan. Jika anak-anak Indonesia sudah diajarkan tentang berbagai kebudayaan Indonesiadengan efektif dan terprogram, mungkin berbagaih kebudayaan kita akan lebih dikenal oleh generasi penerus.

3. Kaya Akan Budaya Tetapi Industri wusatanya Kalah Oleh Negara Tetangga.

Menurut daa Organisasi Pariwisata PBB, Indonesia tidak termasuk 10 besar negara yang paling banyak dikunjungi tahun 2010 dengan hanya sekitar limajuta tuis asing. Hal ini ironis jika dibandingkan dengan Malaysia yang menempati urutan 9 industi pariwisata dengan lebih dari duapuluh juta pengunjung. Dari segi potensi wisata jelas Malaysia kalah jauh dengan Indonesia, namun dalam hal promosi kita kalah. Malaysia menganggarkan dana yang lebih besar dalam hal promsi, stabiltas politinya pun stabil dengan kondisi keamanan yang memadai. Karakteristik alam yang tidak berbeda jauh dengan Indonesia membuat turis lebih memilih Mlayasia ketimbang Indonesia yang politiknya tidak pernah stabil.

Simpulan.

Masih banyak sebenarnya fenomena-fenomena dibali segudangnya kekayaan budaya Indonesia. Dan dari tiga masalah yang kita nahas kita tahu bertapa kompleknya permasalahan yang ada. Walau sudah "terlanjur" namun belum terlambat untuk memperbaikinya. Asalkan kita mau memahami, membuka matahati dengan nurani, mencoba mengapresiasi karya seni bangsa sendiri walah hanya melihat, dari pada terus menerus menyalahkan pemerintah yang hanya terganjal masalah revrmasi dan birokrasi serta korupsi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar